Ah yang benar saja,
Kalau jejaring sosial yang dahulu-dahulu kita gunakan facebook, dan twitter kita tidak bisa mendapatkan apa-apa darinya, dengan tsu kita bisa memperoleh reward dari setiap konten yang kita bagikan.
Tapi kalau boleh saya jujur, hal ini akan menimbulkan sebuah pragmatisme dalam bersosial. Jejaring sosial seperti facebook dan twitter yang tidak membayar saja sudah bisa mebuat seseorang menjadi pragmatis, apalagi jejaring sosial yang membayar.
Saya berikan sedikit gambaran
Kalau dengan menggunakan jejaring sosial yang konvensional, kita terbantu sekali dengan adanya komunikasi antara kita dan teman-teman kita. Kita bisa saling berbagi pengalaman atau kesibukan yang sedang kita jalani saat ini.
Jika teman kita atau jaringan kita ada yang tertarik dengan apa yang kita bagikan di akun jejaring sosial kita, mereka masti akan menekan tombol like (untuk facebook) retweet (untuk twitter) dan juga + (untuk Google plus)
Tanggapan yang diberikan adalah tanggapan alami yang tidak dibuat-buat. Jadi komunikasi yang terbangung antar user juga merupakan komunikasi alami. Hanya tambahannya ada bantuan teknologi dalam berkomunikasi.
Kita bisa mengukur seberapa menarik hal yang kita lakukan dari jumlah tanggapan dari teman kita di jejaring sosial ini.
Muncul Tsu.co Yang Katanya Membayar
Saya menuliskan kritik ini bukan berarti saya tidak mempunyai akun tsu lho. Jika anda berkenan untuk berteman dengan saya di tsu, anda bisa menambahkan saya berikut adalah profile saya di tsu tsu.co/bayup
Dari kronologi akun tsu saya, sudah jelas terlihat, bahwa orientasi pengguna tsu adalah uang. Jadi tidak muncul sebuah komunikasi alami seperti yang terjadi di jejaring sosial yang lainnya.
Komunikasi yang terjadi di jejaring sosial tsu adalah komunikasi palsu. Paling yang menanggapi konten yang anda bagikan adalah mereka yang butuh perhatian dan ingin dibuka akun tsu nya.
Tanggapan-tanggapan monotone sering sekali muncul. Misalnya ketika kita membagikan sebuah gambar, paling teman kita berkomentar "Keren bro" atau "Nice" dsb
Pelanggaran Hak Cipta Untuk Hal Komersial
Sadarkah bahwa pengguna tsu yang pragmatis akan melakukan apa saja agar bisa mendapatkan tanggapan dari temannya. Contoh yang paling sering adalah, membagikan gambar yang menarik.
Gambar yang menarik tersebut di ambil dari internet. Kan gampang sekali mencari gambar melalui Google. Tinggal masukkan saja kata kunci, maka gambar akan keluar.
Namun yang perlu dicatat, gambar tersebut bisa jadi mempunyai hak cipta yang dilindungi oleh pihak berwenang.
Nah, karena pragmatisisme dari pengguna tsu, maka hal ini sangat tidak diperhatikan. Yang mereka perhatikan adalah bagaimana cara mendapatkan uang dengan cepat dan dengan cara apapun.
Sungguh saya sangat sedih akan hal ini. Saya punya akun tsu, tapi insyaallah saya tidak akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum Termasuk pelanggaran hak cipta. Mungkin management tsu harus lebih selektif dalam menerima user baru. Karena bisa-bisa situs tsu akan dituntut karena menggunakan konten berlisensi untuk kepentingan komersial.
Komunitas Tsu Pun Bersifat Tertutup
Satu hal lagi yang membuat saya merasa aneh dengan jejaring sosial ini, di Indonesia komunitas Tsu bisa dibilang tertutup. Bagaimana tidak ketika saya ingin bergabung dengan grup facebook dari komunitas ini, saya tidak langsung di approve.
Jadi saya dikirimi private massage terlebih dahulu. Saya ditanya, apakah saya punya akun tsu apa tidak. Ya karena saya sudah pernah membuat, saya jawab saja sudah punya.
Kemudian si admin ini meminta username tsu saya, saya kasih aja. Setelah saya kasih beliau baru approve saya untuk bergabung dengan grup tersebut. Si admin yang menggunakan nama perempuan (tapi foto profilnya kartun) itu kemudian memperingatkan saya untuk membaca TOS (term of service) untuk bergabung grup tersebut. Dan terakhir saya juga diperingatkan jika saya melanggar akan di blokir permanen dari grup tersebut.
Oke lah, niat saya cuma pengen bersosial, tapi sepertinya tsu bukanlah jawaban untuk mencari teman dan juga berteman. Sekian pengalaman saya

Tidak ada komentar :
Speak Your Mind: